Majalah

KREASI SANTRI

Majalah Al Kautsar Al Akbar Mempromosikan Potensi Alumni Didirikan oleh Ust. Julkifli Marbun, MA

Tuesday, 20 June 2017

Menjadi Penanggung Jawab Lembaga atau Pesantren; Mandiri dan tak Mudah Menyerah

KREASI SANTRI -- Saat pulang kampung ke Pakkat, baru-baru ini, penulis; Julkifli Marbun, berjumpa dengan sejumlah anggota keluarga.

Sebagaimana perjumpaan keluarga, terdapat diskusi mengenai kisah sukses anak-anak dan kemenakan masing-masing.

Ada satu yang menggelitik ketika seorang ibu menceritakan kisah sukses anggota keluarganya yang dipercayakan oleh pemilik mengasuh sebuah lembaga pendidikan.

"Ternyata yah, gajinya tidak sebanyak yang diperkirakan," kata ibu tersebut.

"Bagaimana menurutmu?," katanya tiba-tiba mengarahkan pertanyaan menukik ke arah saya.

Saya tak siap dihadapkan dengan pertanyaan tersebut. Tapi, adalah sudah dimaklumi bahwa bekerja dan mengabdi mempunyai risiko dan konsekuensi berbeda, tergantung jenis pekerjaan dan letak geografisnya.

Bila dilihat sebagai pekerjaaan, maka wajar saja pendapatnya tidak sebesar posisi yang sama di tempat lain, misal di Jakarta dll. Apalagi lokasinya di Deli Serdang.

Saya menambahkan, kadang sebuah posisi diberikan kepada seseorang dengan maksud yang bersangkutan dapat menunjukkan berbagai inovasi dan solusi.

Berbagai kebijakannya akan sangat ditunggu untuk memakmurkan dan mensejahterakan mereka yang dipimpin atau memajukan lembaga yang dinaunginya. Dan, pada akhirnya membuat reward dan kredit kepada dirinya ikut terangkat.

Namun, jika setiap hari diisi dengan mengeluh dan meratapi pendapatan, maka akan sulit memberi ruang di dalam pikiran untuk tumbuhnya ide-ide baru untuk berkembang.

Saya jadi teringat dengan pertanyaan seorang khadimul ma'had, seorang penanggung jawab operasional pesantren yang selalu mengeluh bahwa pesantren induknya atau donaturnya tak memberi subsidi yang banyak bagi mereka.

Untuk menjawab tersebut, saya mengusulkan berbagai ide gebrakan dan solusi, belajar dari berbagai pengalaman dan konsultasi pendidikan.

Tapi, anehnya, dia menolak semua usulan tersebut. "Kita kan nggak mungkin begitu, gak mungkin begini.. apalagi kita hanya begini.." katanya dengan respon pesimistis dan argumentasi yang bernuansa inferiority complex.

Saya bisa membayangkan betapa pusingnya pihak yang memberi kepercayaan melihat 'manajer' seperti ini yang tak mau (dan tak bisa) melakukan terobosan-terobosan bila tak diberi dana besar. Padahal bisa saja, dana belum tersedia atau dana ada tapi tak sesuai dengan prestasinya yang menjadi bottleneck.

"Dipecat.. salah... dipertahankan.. tak berguna. Dikasih ide, tak mampu," pikir saya. Apalagi, yang bersangkutan malah membisniskan santri atau tak bisa memajukan tingkat akademik mereka.

Dari dua contoh di atas, satu hikmah yang dapat diambil adalah marilah kita menunjukkan prestasi dan kerja yang optimal bila diberi kesempatan.

Ada banyak inovasi yang bisa dilakukan tanpa atau dengan pendanaan yang minim. Semuanya tergantung kreativitas dan kesunggguhan. Apalagi sekarang ini berbagai kesempatan telah dibuka pemerintah, hanya butuh kemauan untuk mendapatkannya seperti biaya operasional sekolah dan peluang kerja sama dengan CSR perusahaan dan lain sebagainya.

Lihat misalnya kegigihan lembaga bimbingan belajar atau bisa juga belajar dari solusi dan inovasi berbagai sekolah yang telah mampu mandiri.

Bacalah literatur lebih mendalam tentang jenis pekerjaan anda. Ketahuilah bahwa di perkotaan seperti Jakarta, tingkat persaingan sangat tinggi. Seorang yang dipercayakan menjalankan pesantren, atau seorang manajer, direktur atau kepala bidang, sekarang ini bahkan diberi target pencapaian yang jelas.

Bila tidak bisa mencapai target tersebut, maka akan dipersilakan mengundurkan diri untuk memberi ruang kepada yang sanggup berkarya.

Di perusahaan-perusahaan profesional, sistem seperti ini harus dilakukan untuk mengurangi beban dan kerugian.

Begitu juga di lembaga pendidikan, sosial dan lain sebagainya.

Semoga alumni pesantren Al Kautsar Al Akbar, yang sedang menjabat maupun yang akan, tidak menunjukkan gejala seperti ini.

Pendidikan yang bermutu yang didapat selama mondok, kiranya dapat diterapkan dengan penuh keihklasan dan keberkahan.

Hanya sebuah tulisan biasa untuk menarik hikmah.

Be the best.. (*)

Yuk gabung PanPage Facebook Belajar Quran dan Ilmu Tafsir atau di sini.
Kunjungi: Yayasan Mahmun Syarif Marbun, Lihat: Info Pendaftaran di Pesantren Al Kautsar Al Akbar Medan dan cabangnya di Lae Toras, Humbang Hasundutan

Majalah Kreasi Santri merupakan majalah internal Pesantren Al Kautsar Al Akbar, Medan, Sumatera Utara. Majalah ini didirikan oleh Julkifli Marbun, guru pengabdian tahun 1995-1996 beserta anak didiknya. Kini terus dikembangkan secara online.

0 comments:

Post a Comment

KREASI SANTRI
+6281284179400
Penang, Malaysia

SEND US A MESSAGE