Energi Kunci Pemulihan Suriah


Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki Alparslan Bayraktar yang dikutip harian Sabah kembali menyorot besarnya tantangan pemulihan Suriah pascakonflik panjang. Menurut Bayraktar, Suriah membutuhkan dana sekitar 300 miliar dolar AS untuk dapat bangkit kembali secara menyeluruh setelah lebih dari satu dekade dilanda perang dan kehancuran infrastruktur.

Angka tersebut mencerminkan skala kerusakan yang meluas, mulai dari sektor energi, transportasi, perumahan, hingga layanan dasar seperti air dan listrik. Tanpa suntikan dana dalam jumlah besar, pemulihan ekonomi Suriah dinilai akan berjalan lambat dan tidak merata di berbagai wilayah.

Bayraktar menekankan bahwa salah satu cara realistis untuk menyediakan pembiayaan pemulihan tersebut adalah dengan memasukkan kembali sumber daya energi Suriah ke dalam roda ekonomi nasional. Sektor energi dipandang sebagai tulang punggung yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan bagi negara.

Suriah memiliki potensi energi yang signifikan, baik dari gas alam, minyak, maupun energi terbarukan. Selama bertahun-tahun, potensi ini tidak dimanfaatkan secara optimal akibat konflik, sanksi, serta fragmentasi kontrol wilayah.

Dalam konteks itu, muncul rencana investasi besar yang melibatkan aliansi Turki, Qatar, dan Amerika Serikat. Koalisi ini disebut berniat menanamkan modal sekitar 7 miliar dolar AS di Suriah, terutama pada sektor pembangkit listrik.

Investasi tersebut direncanakan untuk pembangunan empat pembangkit listrik berbahan bakar gas serta satu pembangkit listrik tenaga surya. Total kapasitas listrik yang ditargetkan dari proyek ini mencapai sekitar 5.000 megawatt.

Jika terealisasi, kapasitas tersebut akan menjadi tambahan signifikan bagi sistem kelistrikan Suriah yang selama ini mengalami defisit parah. Pemadaman listrik berkepanjangan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di banyak kota.

Pembangkit listrik berbahan bakar gas dipilih karena dinilai lebih cepat dibangun dan relatif efisien, terutama jika didukung pasokan gas domestik Suriah. Sementara itu, pembangkit tenaga surya mencerminkan upaya diversifikasi energi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Keterlibatan Turki dalam proyek ini juga memiliki dimensi strategis. Ankara berkepentingan pada stabilitas ekonomi dan keamanan di kawasan perbatasannya, sekaligus memperluas pengaruh ekonomi melalui proyek infrastruktur lintas negara.

Bagi Qatar, investasi energi di Suriah sejalan dengan peran Doha sebagai pemain penting di sektor gas global dan sebagai aktor diplomatik di Timur Tengah. Sementara Amerika Serikat dipandang melihat proyek ini sebagai instrumen stabilisasi kawasan melalui jalur ekonomi.

Namun, realisasi investasi tersebut tidak lepas dari tantangan politik dan hukum. Isu sanksi internasional terhadap Suriah masih menjadi faktor penentu yang dapat mempercepat atau justru menghambat masuknya modal asing.

Selain itu, kepastian keamanan di lokasi proyek menjadi syarat mutlak bagi investor. Tanpa jaminan stabilitas, proyek infrastruktur berskala besar akan sulit berjalan sesuai rencana.

Di sisi lain, pemerintah Suriah membutuhkan legitimasi dan mekanisme yang jelas untuk mengelola pendapatan dari sektor energi agar benar-benar masuk ke kas negara dan digunakan untuk kepentingan publik.

Pengalaman negara-negara pascakonflik menunjukkan bahwa sektor energi sering menjadi pintu masuk pemulihan ekonomi. Pendapatan dari listrik dan energi dapat mendorong pembangunan sektor lain, mulai dari industri hingga layanan sosial.

Bayraktar juga menyinggung bahwa integrasi energi Suriah ke dalam ekonomi regional dapat membuka peluang kerja sama lintas batas. Hal ini berpotensi menghubungkan kembali Suriah dengan jaringan energi kawasan.

Bagi masyarakat Suriah, perbaikan pasokan listrik bukan sekadar isu ekonomi, melainkan kebutuhan dasar yang berdampak langsung pada kualitas hidup, pendidikan, dan layanan kesehatan.

Jika proyek pembangkit listrik ini berjalan, dampaknya diharapkan terasa dalam jangka menengah, dengan meningkatnya jam listrik dan berkurangnya ketergantungan pada generator mahal.

Meski demikian, banyak pengamat menilai bahwa investasi energi hanyalah salah satu bagian dari kebutuhan pemulihan Suriah yang jauh lebih luas. Reformasi ekonomi, rekonsiliasi politik, dan rekonstruksi sosial tetap menjadi pekerjaan rumah besar.

Pernyataan Bayraktar setidaknya memberi gambaran bahwa pemulihan Suriah mulai dilihat melalui pendekatan ekonomi pragmatis. Energi ditempatkan sebagai fondasi awal untuk membangun kembali negara yang lama terpuruk.

Ke depan, perhatian internasional akan tertuju pada sejauh mana rencana investasi ini dapat diwujudkan di tengah dinamika politik kawasan. Realisasi proyek tersebut akan menjadi indikator penting arah baru pemulihan Suriah.

Post a Comment

Previous Post Next Post